Jumat, 01 Mei 2026

BUNTUT PENJARAHAN KAPAL RUST EN WERK

Ilustrasi Penyerangan dan Perompakan Kapal Rust en Werk

(Sumber: Jumantara Vol. 10 No. 1 Tahun 2019: 84)

Gejolak sosial politik kerap mewarnai kisah sejarah. Gencatan senjata, perdamaian, bahkan peperangan terus terjadi. Dengan beragam penyebabnya. Di Pulau Jawa sendiri, pada tahun 1750-an, terjadi pergolakan di bumi Mataram.

Di tempat yang lain, di timur nun jauh di sana, juga sedang memanas. Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) terus berekspansi. Memanfaatkan pergolakan internal kerajaan. Menaklukkan para penguasa lokal. Kerajaan-kerajaan di daerah timur, banyak yang berjatuhan. Tunduk pada kuasa VOC melalui kontrak-kontrak politik. Tak terkecuali Kesultanan Buton.

Perompakan Kapal Rust en Werk

Melalui kontrak tahun 1613 dan 1667, penguasa Buton memberi izin kapal-kapal VOC berlabuh. Termasuk wajib melindunginya dari berbagai ancaman. Pada hari Rabu, 28 Juni 1752, kapal Rust en Werk milik VOC berlabuh di Bau-Bau.

Saat berlabuh itulah, kapal diserang dan dijarah. Menurut laporan A. Ligtvoet (1878), dalam Beschrijving en Geschiedenis van Boeton, disebutkan pelakunya adalah Frans-Fransz. Mantan juru bahasa di Bulukumba. Ia merupakan seorang residivis. Melarikan diri dari penjara di Makassar. Dipenjara karena terlibat berbagai perampokan (hlm. 74).

Frans-Fransz dan kelompoknya melarikan diri ke Kabaena. Lari dari kejaran VOC. Penguasa Buton saat itu, bernama La Karambau (memerintah tahun 1751-1752, dan 1760-1763), bergelar Sultan Himayatudin. Ia tidak memperdulikan keberadaan Frans-Fransz beserta kelompoknya. Sampai akhirnya terjadi peristiwa perampokan kapal Rust en Werk. La Karambau pun tidak membantu kapal VOC.

Lukisan La Karambau Penguasa Kesultanan Buton

(Sumber: sultrakini.com)

Bagi VOC, sikap La Karambau dianggap melanggar kontrak. Seharusnya ia membantu kapal VOC yang mendapat ancaman. Pihak Buton, membuat strategi agar tidak diserang oleh VOC. Sebagai hukuman atas peristiwa itu. La karambau pun diganti oleh para pembesar kerajaan. Tahta Buton diserahkan pada Hamim (memerintah tahun 1752-1759), bergelar Sultan Sakiudin.

Strategi Buton tidak dapat berjalan dengan baik. Sebab, hubungan dengan VOC tetap memburuk. VOC menuntut ganti rugi atas peristiwa perampokan kapal Rust en Werk. Meminta dikirim budak, emas, dan perak. Budak yang dikirim oleh Buton tidak sesuai. Sudah berusia tua dan masih anak-anak. Yang justru menjadi beban VOC.

Tidak ada kabar lagi tentang ganti rugi yang harus dibayar Buton. VOC menggapnya sebagai pelanggaran.

VOC Menyerang Buton

Dari Makassar, VOC bersiap menyerang Buton. Pada 19 Februari 1755, di bawah pimpinan Reijsweber dengan armada lautnya. Pada 23 Februari, ekspedisi militer telah sampai di Bau-Bau. Terdiri dari empat orang sersan, empat kopral, empat penabuh tambur dan peniup terompet, serta 140 serdadu.

Pasukan Reijsweber berhasil memporak-porandakan pertahanan Buton. Dari laporan Reijsweber, banyak tokoh penting Buton tewas. Seperti; kapiten laut, mentri besar, raja-raja Lawele, Tondana, dan Raja Rakina. Dari pihak VOC, seorang tewas dan 39 luka-luka, tulis A. Ligtvoet (1878: 78-79).

Rumah-rumah ditembaki dan dibakar oleh VOC. Keadaan Buton membara. Api cepat menjalar. Para penduduk berlarian menyelamatkan diri. Menurut Susanto Zuhdi (2018), dari bukunya berjudul Sejarah Buton Yang Terabaikan Labu Rope Labu Wana, disebutkan situasi Buton mengenaskan. Peristiwa itu memberikan dampak yang traumatik (hlm. 181).

Masyarakat Buton mengenangnya dalam memori kolektif. Atau, dapat juga disebut social memory. Dengan ingatan yang dikenal sebagai Zaman Kaherumma Walanda. Berarti zaman huru-hara Belanda.

Hingga akhirnya, Kesultanan Buton menandatangani kontrak baru dengan VOC. Pada 8 Agustus 1756. Isinya Buton masih harus menyerahkan budak. Sebagai ganti rugi peristiwa perampokan kapal Rust en Werk. Budak yang harus diserahkan berjumlah seribu laki-laki (mansslaven). Berat memang bagi Buton. Sultan Buton masih berupaya bernegosiasi, agar kewajiban itu dapat diperlunak.

Rabu, 01 April 2026

TABAH SAMPAI AKHIR

Kolase Hasil Visual ROV, Kondisi KRI Nanggala 402 di Kedalaman 830 Meter

(Sumber: nesiatimes.com)

Lima tahun lalu, tepatnya 21 April 2021, kabar buruk datang dari perairan sekitar Selat Bali. Tentu tidak ada yang berharap datangnya kabar buruk. Namun, apa mau dikata. Kabar buruk toh datang juga. Selingan di antara kabar baik. Kabar buruk datang dari KRI Nanggala 402. Kapal selam armada TNI AL. Tenggelam saat menjalankan latihan.

KRI Nanggala 402 dibuat di galangan Howaldtswerke-Deutsche Werft di Kiel, Jerman. Model U-209 laris pada masanya. Produk unggulan Jerman kala itu. Dipesan Pemerintah RI pada tahun 1979. Diserahkan bulan Oktober 1981. Setelah digunakan sekitar 8 tahun. Pada tahun 1989 dimodernisasi di Jerman. Kemudian, diperbarui lagi pada tahun 2012 di Korea Selatan.

Menjadi awak kapal selam tidak mudah. Mereka harus menyesuaikan diri. Dengan segala keterbatasan di dalam kapal. Resiko sebagai awak kapal selam cukup berat. Seperti yang disampaikan mantan awak kapal selam. Generasi awak kapal selam TNI AL masa perebutan Irian Barat. Pada tahun 1960-an, pemerintah membeli kapal selam dari Uni Soviet. Sebagai persiapan memperebutkan Irian Barat dari tangan Belanda. Kapal selam itu juga diberi nama KRI Nanggala.

Dikatakan oleh Agoes Soebroto (2009), “Pengalaman Hidup di Kapal Selam” dalam buku berjudul Dan Toch Maar Apa Boleh Buat, Maju Terus! bahwa awak kapal selam tidak boleh banyak bergerak dan tidak banyak bicara. Kedua kegiatan itu mengkonsumsi banyak oksigen. Yang jumlahnya sangat terbatas. Di dalam kapal yang udaranya pengab dan panas. Karenanya, awak kapal selam dituntut bersabar (hlm. 282). Tentu, kapal selam era tahun 1960-an berbeda dengan KRI Nanggala 402. Yang sudah mengalami moderasi. Namun, tetap saja bahaya mengintai dari dalam.

Agoes Soebroto mantan komandan kapal selam KRI Nagarangsang. Pada tahun 1959, Ia dikirim ke Vladivostok, Uni Soviet. Saat itu berpangkat kapten. Untuk menjalani pendidikan dan pelatihan. Bersama tiga perwira TNI AL. Empat perwira yang dikirim pemerintah, berasal dari sekolah militer yang berbeda. Tiga orang lulusan Koninklijk Instituut voor de Marine (KIM), di Den Helder, Belanda. Satu orang lulusan Institut Angkatan Laut (IAL), di Surabaya, Indonesia.

Lulusan KIM yakni A. T. Wignyoprajitno, Teddy Asikin, dan Agoes Soebroto. Lulusan IAL adalah Mardiono. Pada tahun 1950-an, banyak calon perwira TNI AL yang sekolah di KIM. Tradisi pendidikan AL Belanda banyak berpengaruh pada diri mereka. Seperti soal kedisiplinan. Ditanamkan melalui doktrin pada moto KIM. Kennis Is Macht, Karakter Is Meer, berarti ilmu pengetahuan adalah kekuasaan tetapi karakter lebih berarti.

Tradisi dalam kesatuan pun berbeda-beda. Dengan mengutamakan karakter. Baik yang dimiliki tiap-tiap kesatuan di lingkungan TNI AL. Maupun TNI AL sendiri sebagai lembaga induknya. Dengan karakter pasukan menjadi tangguh. Apalagi awak kapal selam. Bertugas di kapal selam itu ibarat setengah menuju kematian. Bayangkan, jika muncul ke permukaan terlihat musuh. Jika terlalu dalam menyelam akan tenggelam. Inilah yang menjadi pilihan sulit.

Untuk itu menanamkan sikap karakter sangat dibutuhkan. Awak kapal selam harus berani, ulet, tenang, sabar, dan teguh. Karenanya, kapal selam mempunyai semboyan:

“Tabah Sampai Akhir”

Orang tabah tidak akan takut … karenanya ia berani.

Orang tabah tidak akan menyerah … karenanya ia ulet.

Orang tabah tidak akan terburu-buru … karenanya ia sabar.

Orang tabah tidak akan hilang akal … karenanya ia tenang.

Orang tabah tidak akan mundur … karenanya ia teguh.

Tabah juga tidak cukup pada awal saja, karena ia harus tabah sampai akhir.

Silent and Severe Service, atau tugas sunyi dan berat, tulis Agoes Soebroto (2009: 285). Pilihan sulit menyelimuti awak kapal selam. Seperti tragedi tenggelamnya KRI Nanggala 402. Namun, menjadi prajurit bertugas di kapal selam, adalah pengabdian. Yang sunyi dari pujian, tetapi dekat dengan kematian.

KRI Nanggala Buatan Soviet Kelas Whiskey Tahun 1960-an

(Sumber: Carlo Belderbos, Promotie 1951 Vijftig Jaar Later (2001: 33)

Minggu, 01 Maret 2026

MEREKRUT SERDADU KNIL

Pamflet Rekrutmen Calon Serdadu KNIL Tahun 1938

(Sumber: indischeharderwijkers.nl)

Tentara bayaran sudah ada sejak dulu. Termasuk tentara tidak profesional sudah ada sejak lama.

Kalau zaman awal republik, siapa yang berani berperang, ia dapat masuk tentara. Tak peduli latar belakang pendidikannya. Tak peduli fisiknya seperti apa. Bahkan, tak lagi diperlukan apa profesi, kepribadian, dan ideologinya. Apakah ia orang baik-baik, atau justru seorang bandit.

Kebutuhan personel membuat pilihan serba sulit. Termasuk bagi pemerintah kolonial. Sejak awal abad ke-19, pemerintah membutuhkan tentara yang bersifat permanen. Apalagi, Perang Jawa (1825-1830) membuat goyah pemerintah. Karena itu, pada 4 Desember 1830 dibentuk tentara kolonial. Melalui Algemeene Orders voor het Nederlandsch-Oost-Indische Leger, yang dikeluarkan oleh Johannes van den Bosch. Gubernur Jenderal Hindia Belanda (1830-1833), sekaligus pencetus Cultuur Stelsel.

Dikutip dari situs Historia, Tentara Kolonial dalam Pusaran Masa, bahwa hasil riset sejarah terbaru, karya Willem L. Plink menunjukkan hasil berbeda. Ia meyakini tentara kolonial sudah ada sejak 14 September 1814.

Serdadu Eropa

Personel militer pemerintah kolonial berasal dari beragam bangsa. Rekrutmen personel dilakukan diberbagai tempat. Di Belanda, Elmina (Afrika), dan Hindia-Belanda. Ada korps bangsa Eropa, korps Belanda Hitam (tentara dari Afrika), dan korps Pribumi.

Hardewijk Tempat Rekrutmen Serdadu Eropa di Belanda

(Sumber: indischeharderwijkers.nl)

Rekrutmen serdadu Eropa dilakukan di Hardewijk, Belanda. Menurut Ineke van Kessel (2011), dalam bukunya berjudul Serdadu Afrika di Hindia Belanda 1831-1945, penunjukan Hardewijk sebagai Koloniaal Werfdepot, atau depot perekrutan kolonial sejak tahun 1814. Menempati gedung bekas percetakan mata uang. Yang diubah menjadi tangsi “Depot Batalion Pasukan di Koloni No. 33” (hlm. 23).

Orang-orang Eropa umumnya dikontrak selama enam tahun. Untuk ditempatkan di Hindia-Belanda. Saat pendidikan di Belanda, tentara kolonial berada di bawah Kementerian Urusan Perang. Namun, saat sudah dikirim ke Hindia-Belanda, tentara kolonial berada di bawah Kementerian Daerah Jajahan, tulis Ineke van Kessel (2011: 23).

Untuk menarik minat calon serdadu, pemerintah membuat iklan. Dengan menjanjikan berbagai tunjangan. Iming-iming gaji besar membuat banyak orang tertarik. Agar mereka segera mencari Koloniaal Werfdepot. Segera Hardewijk dipenuhi calon serdadu Eropa.

Buku tulisan Reggie Baay (2017), berjudul Nyai dan Pergundikan di Hindia Belanda, dikatakan para calon serdadu tidak hanya dari Belanda saja. Tetapi, ada yang berasal dari Jerman, Swiss, Perancis, Austria, Polandia, dan Denmark (hlm. 97).

Dalam rekrutmen calon serdadu, pemerintah memanfaatkan jasa wervers. Semacam makelar. Yang mencari orang-orang yang mau mendaftarkan diri sebagai calon serdadu. Semakin banyak orang yang ia dapatkan, makin tebal komisinya. Siapapun ia setorkan. Tidak perduli latar belakang orang itu. Pemabuk atau orang tidak layak lainnya. Karena itu tentara kolonial memiliki kualitas buruk.

Kebanyakan dari mereka yang mendaftar sebagai serdadu hanyalah pelarian. Tergiur uang muka dan gaji. Ketika berkecamuk Perang Aceh, pemerintah kolonial membutuhkan serdadu yang banyak. Pada tahun 1873, uang muka dinaikkan menjadi f 100 gulden. Untuk jangka waktu kontrak hanya dua tahun. Itu akan terus meningkat hingga f 300 gulden. Hampir setara dengan gaji mereka selama satu tahun. Ini merupakan bentuk keputusasaan pemerintah kolonial mencari calon serdadu, tulis Reggie Baay (2017: 97).

Serdadu KNIL Selesai Berlatih di Mojokerto tahun 1928

(Sumber: wereldmuseum.nl)

Minggu, 01 Februari 2026

Di Ambang Perang: COVIM Mojokerto Pada Akhir Kuasa Hindia Belanda

Kegiatan COVIM Mojokerto Belajar Menjahit dan Memperbaiki Pakaian tahun 1941

(Sumber: https://www.niod.nl)

Awal hingga medio abad ke-20, banyak terjadi peristiwa besar yang kemudian mengubah banyak hal. Mulai dari krisis ekonomi, wabah mematikan, bahkan perang.

Salah satu perang yang cukup fenomenal dalam sejarah ialah Perang Dunia II. Mulanya perang ini terjadi di Eropa. Kemudian menyulut perang di belahan dunia lainnya. Di kawasan Asia Pasifik terkenal dengan ekspansi Jepang. Sering disebut juga Perang Asia Pasifik, atau Perang Dunia II di front Asia.

Ketika perang berkecamuk di Eropa, Pemerintah Hindia Belanda berupaya menyokong Belanda yang diinvasi Jerman. Tidak hanya menjadikan penduduk pribumi sebagai tentara. Namun dukungan berupa dana perang.

Sumbangan Dana Perang Bulan Juni 1940

(Sumber: Soerabaijasch Handelsblad 13 Juli 1940)

Termasuk membangun kewaspadaan jikalau perang terjadi di Hindia Belanda. Untuk itu pada sekitar bulan September 1939 dibentuk Comité voor Vrouwenarbeid in Mobilisatietijd (COVIM). Secara umum dapat diartikan sebagai komite untuk mobilisasi kaum perempuan.

Informasi tentang COVIM di Mojokerto dimuat dalam surat kabar Soerabaiasch Handelsblad 12 Juni 1940. Diberitakan komite pusat dari COVIM Mojokerto baru saja dibentuk. Sebelumnya telah dilakukan pendaftaran perempuan di Mojokerto. Organisasi ini di bawah pimpinan Nyonya Van Werkum, istri Asisten Residen Mojokerto.

Dalam buku tulisan Fendy Suhartanto berjudul Mojokerto 1838-1942 Penataan Wilayah Kabupaten di Bawah Kuasa Pemerintah Hindia Belanda, saat itu yang menjabat sebagai Asisten Residen Mojokerto ialah Mr. H. D. van Werkum. Sekaligus merangkap jabatan sebagai Walikota Mojokerto. Mulai menjabat asisten residen dan walikota sejak tahun 1940. Bahkan pada awal tahun 1942 masih menjabat. Beberapa bulan sebelum kedatangan Jepang di Jawa (2025: 220).

Pemberitaan Dibentuknya COVIM Mojokerto tahun 1940

(Sumber: Soerabaiasch Handelsblad 12 Juni 1940)

Dalam suatu pertemuan COVIM Mojokerto, Nyonya Van Werkum mengatakan perlunya mempertahankan tanah air. Akibat perang di negeri Belanda, ratu harus melarikan diri ke Inggris. Walaupun mengalami masa-masa sulit, kita tidak boleh kehilangan semangat. Sebisa mungkin membantu tentara yang sedang berperang. Nyonya Van Werkum juga mengatakan untungnya situasi di Pasifik tetap aman dan tidak ada kekhawatiran, tulis Soerabaiasch Handelsblad 12 Juni 1940.

Setahun berikutnya, apa yang disampaikan Nyonya Van Werkum tidak sejalan kenyataan. Ketika 7 Desember 1941 Jepang membombardir pangkalan militer Amerika Serikat di Pearl Harbour, Hawaii. Perang Asia Pasifik telah dimulai. Keadaan di Hindia Belanda mulai nampak gelisah. Jepang dalam waktu dekat pasti akan menyerang Hindia Belanda.

Untuk mempersiapkan mobilisasi kaum perempuan, COVIM Mojokerto melaksanakan berbagai kegiatan. Seperti dimuat dalam surat kabar De Indische Courant 26 April 1941. Antara lain mempelajari tentang Lucht Bescherming Dienst (LBD) atau semacam pertahanan sipil serangan udara, kebiasaan hidup sehat, mengenal kota dan transportasi perkotaan, penitipan dan perawatan anak, serta Eerste Hulp bij Ongelukken (EHBO) atau pertolongan pertama pada kecelakaan. Pelajaran tersebut disampaikan dalam Bahasa Melayu, terutama untuk penduduk pribumi dan Cina.

Berbagai macam kursus dan pelatihan tersebut, untuk mempersiapkan kaum perempuan dalam menghadapi perang.

Pada pertengahan Januari 1942, surat kabar De Indische Courant 19 Januari 1942 memberitakan para pengungsi telah berdatangan di Mojokerto. Pengurus COVIM Mojokerto memerintahkan kepada para anggota dengan sukarela untuk membantu para pengungsi.

COVIM Mojokerto mendapat tugas mengumpulkan berbagai perbekalan. Mulai dari handuk, baskom cuci, mentega kaleng, sabun, dan lain-lain. Perbekalan diserahkan ke Societeit Concordia Mojokerto, tulis surat kabar Soerabaijasch Handelsblad 3 Februari 1942.

Sebulan kemudian, tepatnya pada 8 Maret 1942, Pemerintah Hindia Belanda menyerah kepada Jepang. Melalui suatu upacara penyerahan di Kalijati, Subang, Jawa Barat.

Kamis, 01 Januari 2026

PERAYAAN PERGANTIAN TAHUN DI MOJOKERTO ERA HINDIA BELANDA

Agenda Kebaktian Malam Tahun Baru Gereja Protestan di Mojokerto tahun 1939

(Sumber: De Locomotief 29 Desember 1939)

Momen pergantian tahun baru pada kalender Gregorian dirayakan di hampir penjuru dunia. Menjadi standar penghitungan hari internasional. Kalender ini mulai diresmikan sekitar tahun 1582. Mengkoreksi kalender Julian yang sudah diterapkan sejak 46 Sebelum Masehi.

Walaupun sudah dilakukan perbaikan, bukan berarti kalender Gregorian sempurna. Mengutip informasi dari nationalgeographic.grid.id, sistem kalender ini masih meleset 26 detik. Dalam perhitungan astronomi modern, akan ada hari kosong tanpa kalender pada tahun 4909. Kira-kira 2884 tahun yang akan datang. Kita tidak tahu apakah di masa itu masih ada perayaan tahun baru. Atau justru bumi sudah hilang tanpa bekas di alam semesta.

Namun ini bukan soal masa depan, tetapi masa lalu. Tentang perayaan tahun baru di era Hindia Belanda. Dalam sumber kolonial sering disebut oudejaarsavond en nieuwjaarsdag. Secara sederhana oudejaarsavond dapat diartikan malam tahun baru, sedangkan nieuwjaarsdag ialah hari di tahun baru.

Sebagian penduduk di Mojokerto pada era Pemerintah Hindia Belanda turut merayakan tahun baru. Perayaan tahun baru merupakan bagian dari rangkaian perayaan Natal. Seperti diberitakan surat kabar De Indische Courant 24 Desember 1935 dan Soerabaiasch Handelsblad 24 Desember 1935, di mana akan diadakan kebaktian pada malam tahun baru. Terutama para penganut Protestan di Mojokerto.

Gereja Katolik di Mojokerto tahun 1925

(Sumber: Sint Vincentius a Paulo, Mei 1925)

Surat kabar tersebut juga mengabarkan umat Katolik merayakan Natal dengan berbagai kegiatan. Rencananya pada 25 Desember 1935 pagi akan diadakan kebaktian oleh para biarawati di Kapel yang berada di Willemstraat. Willemstraat merupakan nama jalan di era Hindia Belanda (saat ini menjadi Jalan Pemuda di Kota Mojokerto). Tahun sebelumnya, pada malam tahun baru 31 Desember 1934, akan diadakan ibadah dan khotbah, tulis surat kabar Soerabaiasch Handelsblad 18 Desember 1934.

Dalam buku berjudul Mojokerto 1838-1942 Penataan Wilayah Kabupaten di Bawah Kuasa Pemerintah Hindia Belanda tulisan Fendy Suhartanto, menyebutkan dalam suatu laporan tahun 1920-an umat Katolik di Mojokerto jumlahnya tidak banyak. Mereka berada di bawah naungan Roomsch Katholiek (RK). Selain itu terdapat juga jemaat atau congregatie Maria di Mojokerto, yang pada tahun 1935 di bawah pimpinan Pastor C. Schoenmakers (2025: 348 dan 360).

Pastor C. Schoenmakers Berdiri di Belakang bersama Congregatie Maria di Mojokerto tahun 1935

(Sumber: David de Queljoe, 1935: 40)

Informasi dari surat pembaca yang dikirim ke surat kabar De Indische Courant 18 Januari 1936, mengatakan malam tahun baru di Mojokerto selalu sangat menyenangkan. Begadang bersama banyak orang saat merayakannya.