Laporan Sebagian Pegawai Kereta Api di Mojokerto Terpapar Influenza 1918
(Sumber: De Preanger-bode, 20 Juli 1918)
Dunia pernah diguncang berbagai wabah mematikan. Kolera, pes, cacar, flu, dan lain-lain. Walau sempat membuat oleng peradaban. Tetapi manusia masih dapat bertahan dan melaluinya. Lebih dari seratus tahun yang lalu, di awal abad ke-20, dunia terguncang karena wabah influenza. Atau sering disebut Flu Spanyol.
Tidak hanya kota-kota pelabuhan atau kota besar. Wabah memasuki wilayah pedalaman. Menjangkiti satu persatu penduduk.
Pada saat terjadi pandemi atau wabah influenza di Jawa, sebagian masyarakat ada yang menghubungkannya dengan hal-hal gaib. Munculnya penyakit karena penduduk tidak taat terhadap adat-istiadat atau tradisi yang berkembang pada masyarakat setempat.
Mereka yang sakit dianggap telah melanggar pantangan dalam masyarakat. Seperti; pelanggaran terhadap tempat-tempat atau benda-benda yang dianggap keramat. Biasanya tempat atau benda keramat tersebut selalu mendapat perhatian dari penduduk. Pada situasi penting, baik sebagai individu maupun masyarakat, akan membersihkan, memberi sesaji, dan melakukan upacara-upacara tertentu.
Iklan Majalah Bulanan Perkumpulan Zending Memuat Informasi Flu Spanyol di Mojowarno 1919
(Sumber: Het Koloniaal Weekblad No. 17, 24 April 1919)
Keadaan secara umum di Jawa juga terjadi di Mojowarno secara khusus. Berdasarkan laporan dari C. W. Nortier dalam “De Spaansche griep te Modjowarno”, untuk memulihkan keadaan akibat wabah influenza dengan mendatangi makam-makam suci dan melaksanakan ritual adat. Disebutkan penyakit influenza akibat gangguan roh-roh atau hantu-hantu jahat. Untuk mengusirnya, masyarakat yang terkena wabah melaksanakan upacara tradisional dengan menyembelih jenis-jenis hewan tertentu. Berharap dari darah hewan yang disembelih dapat memuaskan roh jahat pengganggu, sehingga akan meninggalkan tempat terjadinya wabah (1919: 55).
Barangkali dengan memberikan persembahan dengan ritual adat akan memberikan kesembuhan pada orang yang sakit. Penduduk Mojowarno saat itu memberi sesaji bunga dan menyembelih kerbau di makam Kyai Abisai dan Kyai Emos, dua tokoh perintis agama Kristen di tempat tersebut, tulis Priyanto Wibowo dalam Yang Terlupakan Sejarah Pandemi Influenza 1918 di Hindia Belanda (2009: 111).
Memang tradisi masyarakat Jawa tidak dapat dipisahkan dengan ritual-ritual adat. Bahkan, kebiasaan tersebut sudah dilakukan jauh sebelum masuknya agama-agama seperti Hindu-Budha, Islam, dan Kristen masuk ke Pulau Jawa.
Selain itu, untuk menangkis gangguan roh dan hantu jahat, masyarakat menggambar atau melukis simbol binatang pada dinding rumah maupun bangunan lain. Seperti tampak pada gambar di bawah ini :
Foto Lukisan pada Dinding Rumah untuk Mencegah Penyakit dan Mengusir Roh Jahat
(dok: Priyanto Wibowo, dkk, 2009: 99)
Dalam situasi membingungkan, tentu langkah penanggulangan yang tidak masuk akal dilakukan. Apalagi ketika akses kesehatan terbatas. Termasuk sempitnya pengetahuan tentang penyakit. Maka ritual dilakukan untuk menangkal. Padahal ritual terkadang mengharuskan mereka berkerumun. Yang justru membuat makin masif penularan virus influenza.



