Kolase Hasil Visual ROV, Kondisi KRI Nanggala 402 di Kedalaman 830 Meter
(Sumber: nesiatimes.com)
Lima tahun lalu, tepatnya 21 April 2021, kabar buruk datang dari perairan sekitar Selat Bali. Tentu tidak ada yang berharap datangnya kabar buruk. Namun, apa mau dikata. Kabar buruk toh datang juga. Selingan di antara kabar baik. Kabar buruk datang dari KRI Nanggala 402. Kapal selam armada TNI AL. Tenggelam saat menjalankan latihan.
KRI Nanggala 402 dibuat di galangan Howaldtswerke-Deutsche Werft di Kiel, Jerman. Model U-209 laris pada masanya. Produk unggulan Jerman kala itu. Dipesan Pemerintah RI pada tahun 1979. Diserahkan bulan Oktober 1981. Setelah digunakan sekitar 8 tahun. Pada tahun 1989 dimodernisasi di Jerman. Kemudian, diperbarui lagi pada tahun 2012 di Korea Selatan.
Menjadi awak kapal selam tidak mudah. Mereka harus menyesuaikan diri. Dengan segala keterbatasan di dalam kapal. Resiko sebagai awak kapal selam cukup berat. Seperti yang disampaikan mantan awak kapal selam. Generasi awak kapal selam TNI AL masa perebutan Irian Barat. Pada tahun 1960-an, pemerintah membeli kapal selam dari Uni Soviet. Sebagai persiapan memperebutkan Irian Barat dari tangan Belanda. Kapal selam itu juga diberi nama KRI Nanggala.
Dikatakan oleh Agoes Soebroto (2009), “Pengalaman Hidup di Kapal Selam” dalam buku berjudul Dan Toch Maar Apa Boleh Buat, Maju Terus! bahwa awak kapal selam tidak boleh banyak bergerak dan tidak banyak bicara. Kedua kegiatan itu mengkonsumsi banyak oksigen. Yang jumlahnya sangat terbatas. Di dalam kapal yang udaranya pengab dan panas. Karenanya, awak kapal selam dituntut bersabar (hlm. 282). Tentu, kapal selam era tahun 1960-an berbeda dengan KRI Nanggala 402. Yang sudah mengalami moderasi. Namun, tetap saja bahaya mengintai dari dalam.
Agoes Soebroto mantan komandan kapal selam KRI Nagarangsang. Pada tahun 1959, Ia dikirim ke Vladivostok, Uni Soviet. Saat itu berpangkat kapten. Untuk menjalani pendidikan dan pelatihan. Bersama tiga perwira TNI AL. Empat perwira yang dikirim pemerintah, berasal dari sekolah militer yang berbeda. Tiga orang lulusan Koninklijk Instituut voor de Marine (KIM), di Den Helder, Belanda. Satu orang lulusan Institut Angkatan Laut (IAL), di Surabaya, Indonesia.
Lulusan KIM yakni A. T. Wignyoprajitno, Teddy Asikin, dan Agoes Soebroto. Lulusan IAL adalah Mardiono. Pada tahun 1950-an, banyak calon perwira TNI AL yang sekolah di KIM. Tradisi pendidikan AL Belanda banyak berpengaruh pada diri mereka. Seperti soal kedisiplinan. Ditanamkan melalui doktrin pada moto KIM. Kennis Is Macht, Karakter Is Meer, berarti ilmu pengetahuan adalah kekuasaan tetapi karakter lebih berarti.
Tradisi dalam kesatuan pun berbeda-beda. Dengan mengutamakan karakter. Baik yang dimiliki tiap-tiap kesatuan di lingkungan TNI AL. Maupun TNI AL sendiri sebagai lembaga induknya. Dengan karakter pasukan menjadi tangguh. Apalagi awak kapal selam. Bertugas di kapal selam itu ibarat setengah menuju kematian. Bayangkan, jika muncul ke permukaan terlihat musuh. Jika terlalu dalam menyelam akan tenggelam. Inilah yang menjadi pilihan sulit.
Untuk itu menanamkan sikap karakter sangat dibutuhkan. Awak kapal selam harus berani, ulet, tenang, sabar, dan teguh. Karenanya, kapal selam mempunyai semboyan:
“Tabah Sampai Akhir”
Orang tabah tidak akan takut … karenanya ia berani.
Orang tabah tidak akan menyerah … karenanya ia ulet.
Orang tabah tidak akan terburu-buru … karenanya ia sabar.
Orang tabah tidak akan hilang akal … karenanya ia tenang.
Orang tabah tidak akan mundur … karenanya ia teguh.
Tabah juga tidak cukup pada awal saja, karena ia harus tabah sampai akhir.
Silent and Severe Service, atau tugas sunyi dan berat, tulis Agoes Soebroto (2009: 285). Pilihan sulit menyelimuti awak kapal selam. Seperti tragedi tenggelamnya KRI Nanggala 402. Namun, menjadi prajurit bertugas di kapal selam, adalah pengabdian. Yang sunyi dari pujian, tetapi dekat dengan kematian.
KRI Nanggala Buatan Soviet Kelas Whiskey Tahun 1960-an
(Sumber: Carlo Belderbos, Promotie 1951 Vijftig Jaar Later (2001: 33)


