Kamis, 05 Oktober 2023

TAN DJOE AN: LETNAN CINA MOJOKERTO (1897-1918)

Kapitan Cina Mojokerto Tan Djoe An Sekitar tahun 1918

(Sumber: https://digitalcollections.universiteitleiden.nl/view/item/921473)

Belum diketahui dengan pasti sejak kapan pertama kali migrasi orang-orang Tionghoa ke Nusantara. Namun, gelombang migrasi sudah dilakukan sejak lama. Mereka bermukim di berbagai tempat di Nusantara, termasuk di Pulau Jawa. Pada mulanya mereka banyak bermukim di daerah pesisir utara Jawa. Menurut Victor Purcell, dalam bukunya The Chinese in South East Asia dikatakan di era Pemerintahan Hindia Belanda banyak orang Tionghoa yang sengaja didatangkan. Hal itu dilakukan oleh Belanda karena kebutuhan akan tenaga kerja. Untuk menambah jumlah kebutuhan tenaga kerja dalam proyek pertambangan dan perkebunan (1997: 33).

Puncak persebaran orang-orang Tionghoa di Jawa terjadi pada awal abad ke-19. Di mana, di Kota Batavia saja ada sekitar 100.000 orang Tionghoa. Sedangkan, jumlah penduduk di Pulau Jawa saat itu diperkirakan sekitar 5 juta jiwa, tulis Benny G. Setiono dalam Tionghoa dalam Pusaran Politik (2002: 55).

Sedangkan, dalam buku Uitkomsten Der In De Maand November 1920 Gehouden Volkstelling, Deel II Tabellen, pada awal abad ke-20 di Mojokerto terdapat 1.989 jiwa penduduk Tionghoa. Terdiri dari 1.108 penduduk laki-laki, dan 881 penduduk perempuan (1922: 52-53). Jumlah ini hanya yang ada di Kota Mojokerto, belum termasuk di onderdistrik Jabon, Puri, Sooko, dan Trowulan. Yang saat itu termasuk ke dalam wilayah administrasi distrik Mojokerto. Tidak diketahui secara pasti sejak kapan mereka bermukim di Mojokerto.

Di sisi lain, jumlah mereka semakin banyak dan menjadi penguasa jaringan perdagangan saat itu. Karenanya, pemerintah kolonial sangat khawatir terhadap eksistensi mereka. Untuk membatasi geraknya, pemerintah pun mengeluarkan kebijakan wijkenstelsel dan passenstelsel. Membagi pemukiman dan kewajiban mempunyai surat jalan.

Konsekuensi dari kebijakan wijkenstelsel adalah terpusatnya pemukiman orang-orang Tionghoa di suatu daerah. Pemukiman mereka seringkali disebut Pecinan. Biasanya berada di pusat kota dan merupakan daerah perdagangan yang strategis.

Dari Letnan Cina Sampai Kapitan Cina

Untuk mempermudah Pemerintah Hindia Belanda dalam menjalankan pemerintahan, dijalankanlah kebijakan sistem opsir. Mona Lohanda dalam bukunya The Kapitan Cina of Batavia 1837-1942, menyebutkan sistem jabatan tersebut awalnya dari jabatan syahbandar. Kemudian berkembang menjadi sistem kapitan saat Belanda berkuasa (2001: 40-61). Dalam susunan jabatan, selain Kapitan Cina ada juga Letnan Cina dan Mayor Cina.

Pemerintah kolonial yang menunjuk mereka untuk menjabat sebagai opsir. Dengan jabatan kapitan, letnan, atau mayor. Biasanya yang ditunjuk merupakan orang yang kaya di antara etnis Cina lainnya. Dari kekayaan itulah yang menjadi ukuran akan penghargaan yang tinggi, dan pengaruh di antara etnis Cina, tulis Onghokham dalam bukunya Rakyat dan Negara (1991: 33). Pemerintah kolonial memasukan orang Tionghoa dalam kelompok Vreemde Oosterlingen, atau golongan timur asing. Sehingga perlu mengangkat pemimpin di antara kelompok tersebut.

Demikian pula terjadi pada Letnan Cina Tan Djoe An, yang seorang pedagang kaya di Mojokerto. Dalam buku Regeerings Almanak voor Nederlandsch Indie 1898, Tweede Gedeelte: Kalender en Personalia, ia mulai menjabat sebagai Letnan Cina Mojokerto pada 29 Juli 1897 (1898: 184). Kabar pengangkatannya juga dimuat dalam surat kabar Bataviaasch Nieuwsblad, 30 Juli 1897. Dikatakan bahwa ia menggantikan Letnan Cina sebelumnya, yakni Goei Hok Tjin. Kemudian, Goei Hok Tjin diberikan sebutan Letnan Cina tituler bagi bangsanya setelah pensiun. Tan Djoe An menjabat sebagai pemimpin dalam Bestuur over Vreemde Oosterlingen, atau pemerintahan untuk orang timur asing, khususnya orang Tionghoa di afdeling Mojokerto.

Berdasarkan informasi dari surat kabar Soerabaijasch Handelsblad, 02 Januari 1894, 08 Desember 1897, 22 Oktober 1898, 24 Juli 1899, 25 Januari 1900, dan 30 Agustus 1905, Tan Djoe An mempunyai toko yang juga diberi nama Toko Tan Djoe An. Toko tersebut menjual berbagai macam jenis makanan, minuman, dan kebutuhan lainnya. Seperti: petis udang (merk Liem Boen Tiong), bir (cap Glas), air beraroma buah-buahan, sabun, buah apel, obat, susu, dan lain-lain. Termasuk mendapatkan lisensi penjualan berbagai produk.

Dalam perjalanan kariernya di pemerintahan, Tan Djoe An pernah juga menduduki jabatan sebagai anggota dewan daerah Surabaya. Seperti diberitakan dalam surat kabar Het Nieuws van Den Dag voor Nederlandsch-Indie, 21 Maret 1908. Rencana pengangkatannya sebagai anggota dewan daerah Surabaya pada 01 April 1908. Saat itu afdeling Mojokerto merupakan bagian dari Karesidenan Surabaya. Dalam buku Regeerings Almanak voor Nederlandsch Indie 1913, Tweede Gedeelte: Kalender en Personalia, ia tidak lagi disebut Letnan Cina. Tetapi disebut dalam jabatannya sebagai Kapitan Cina tituler (1913: 179). Artinya, ia sudah mendapatkan kenaikan jabatan menjadi Kapitan Cina sejak tahun 1912.

Tan Djoe An menjabat Letnan dan Kapitan Cina Mojokerto dalam waktu yang cukup lama. Pada tahun 1917, ia mendapatkan penghargaan Gouden Ster (bintang emas) dari pemerintah. Karena kesetiaan dan pengabdiannya kepada pemerintah kolonial, dan juga pelayanannya dalam menjalankan tugas, tulis surat kabar De Nieuwe Vorstenlanden, 29 Oktober 1917. Jika merujuk pada foto saat pemberian penghargaan, dihadiri oleh pejabat tinggi Eropa dan pribumi di afdeling Mojokerto. Seperti: Residen Surabaya, Asisten Residen Mojokerto R. A. Kern, dan Bupati Mojokerto Raden Tumenggung Kromo Adinegoro.

Meskipun sudah memasuki masa pensiun, Kapitan Cina tituler Tan Djoe An masih tercatat menjabat sampai tahun 1918. Setahun setelah memperoleh penghargaan bergengsi dalam pemerintahan, kabar duka menyelimuti komunitas Tionghoa Mojokerto. Terutama dari keluarga besar Kapitan Cina Mojokerto Tan Djoe An. Surat kabar De Locomotief, 13 Juni 1918 memberitakan meninggalnya Tan Djoe An yang dimuat dalam iklan duka oleh istri dan anak-anaknya. Ia meninggal dalam usia 62 tahun pada 10 Juni 1918. Ditulis dalam berita duka bahwa ia merupakan Kapitan Cina tituler dan juga pernah menjadi anggota dewan daerah Surabaya.

Pasca meninggalnya Tan Djoe An, pemerintah kolonial kemudian mengangkat Ong Tiang Sing sebagai Letnan Cina Mojokerto pada 03 Juli 1918, seperti dimuat dalam buku Regeerings Almanak voor Nederlandsch Indie 1919, Tweede Gedeelte: Kalender en Personalia (1919: 181). Demikian riwayat singkat Tan Djoe An, Kapitan Cina tituler Mojokerto yang pernah menjabat selama sekitar 20 tahun.