Kamis, 01 Januari 2026

PERAYAAN PERGANTIAN TAHUN DI MOJOKERTO ERA HINDIA BELANDA

Agenda Kebaktian Malam Tahun Baru Gereja Protestan di Mojokerto tahun 1939

(Sumber: De Locomotief 29 Desember 1939)

Momen pergantian tahun baru pada kalender Gregorian dirayakan di hampir penjuru dunia. Menjadi standar penghitungan hari internasional. Kalender ini mulai diresmikan sekitar tahun 1582. Mengkoreksi kalender Julian yang sudah diterapkan sejak 46 Sebelum Masehi.

Walaupun sudah dilakukan perbaikan, bukan berarti kalender Gregorian sempurna. Mengutip informasi dari nationalgeographic.grid.id, sistem kalender ini masih meleset 26 detik. Dalam perhitungan astronomi modern, akan ada hari kosong tanpa kalender pada tahun 4909. Kira-kira 2884 tahun yang akan datang. Kita tidak tahu apakah di masa itu masih ada perayaan tahun baru. Atau justru bumi sudah hilang tanpa bekas di alam semesta.

Namun ini bukan soal masa depan, tetapi masa lalu. Tentang perayaan tahun baru di era Hindia Belanda. Dalam sumber kolonial sering disebut oudejaarsavond en nieuwjaarsdag. Secara sederhana oudejaarsavond dapat diartikan malam tahun baru, sedangkan nieuwjaarsdag ialah hari di tahun baru.

Sebagian penduduk di Mojokerto pada era Pemerintah Hindia Belanda turut merayakan tahun baru. Perayaan tahun baru merupakan bagian dari rangkaian perayaan Natal. Seperti diberitakan surat kabar De Indische Courant 24 Desember 1935 dan Soerabaiasch Handelsblad 24 Desember 1935, di mana akan diadakan kebaktian pada malam tahun baru. Terutama para penganut Protestan di Mojokerto.

Gereja Katolik di Mojokerto tahun 1925

(Sumber: Sint Vincentius a Paulo, Mei 1925)

Surat kabar tersebut juga mengabarkan umat Katolik merayakan Natal dengan berbagai kegiatan. Rencananya pada 25 Desember 1935 pagi akan diadakan kebaktian oleh para biarawati di Kapel yang berada di Willemstraat. Willemstraat merupakan nama jalan di era Hindia Belanda (saat ini menjadi Jalan Pemuda di Kota Mojokerto). Tahun sebelumnya, pada malam tahun baru 31 Desember 1934, akan diadakan ibadah dan khotbah, tulis surat kabar Soerabaiasch Handelsblad 18 Desember 1934.

Dalam buku berjudul Mojokerto 1838-1942 Penataan Wilayah Kabupaten di Bawah Kuasa Pemerintah Hindia Belanda tulisan Fendy Suhartanto, menyebutkan dalam suatu laporan tahun 1920-an umat Katolik di Mojokerto jumlahnya tidak banyak. Mereka berada di bawah naungan Roomsch Katholiek (RK). Selain itu terdapat juga jemaat atau congregatie Maria di Mojokerto, yang pada tahun 1935 di bawah pimpinan Pastor C. Schoenmakers (2025: 348 dan 360).

Pastor C. Schoenmakers Berdiri di Belakang bersama Congregatie Maria di Mojokerto tahun 1935

(Sumber: David de Queljoe, 1935: 40)

Informasi dari surat pembaca yang dikirim ke surat kabar De Indische Courant 18 Januari 1936, mengatakan malam tahun baru di Mojokerto selalu sangat menyenangkan. Begadang bersama banyak orang saat merayakannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas komentar Anda. Untuk perbaikan media pembelajaran sejarah populer ini.