Minggu, 01 Maret 2026

MEREKRUT SERDADU KNIL

Pamflet Rekrutmen Calon Serdadu KNIL Tahun 1938

(Sumber: indischeharderwijkers.nl)

Tentara bayaran sudah ada sejak dulu. Termasuk tentara tidak profesional sudah ada sejak lama.

Kalau zaman awal republik, siapa yang berani berperang, ia dapat masuk tentara. Tak peduli latar belakang pendidikannya. Tak peduli fisiknya seperti apa. Bahkan, tak lagi diperlukan apa profesi, kepribadian, dan ideologinya. Apakah ia orang baik-baik, atau justru seorang bandit.

Kebutuhan personel membuat pilihan serba sulit. Termasuk bagi pemerintah kolonial. Sejak awal abad ke-19, pemerintah membutuhkan tentara yang bersifat permanen. Apalagi, Perang Jawa (1825-1830) membuat goyah pemerintah. Karena itu, pada 4 Desember 1830 dibentuk tentara kolonial. Melalui Algemeene Orders voor het Nederlandsch-Oost-Indische Leger, yang dikeluarkan oleh Johannes van den Bosch. Gubernur Jenderal Hindia Belanda (1830-1833), sekaligus pencetus Cultuur Stelsel.

Dikutip dari situs Historia, Tentara Kolonial dalam Pusaran Masa, bahwa hasil riset sejarah terbaru, karya Willem L. Plink menunjukkan hasil berbeda. Ia meyakini tentara kolonial sudah ada sejak 14 September 1814.

Serdadu Eropa

Personel militer pemerintah kolonial berasal dari beragam bangsa. Rekrutmen personel dilakukan diberbagai tempat. Di Belanda, Elmina (Afrika), dan Hindia-Belanda. Ada korps bangsa Eropa, korps Belanda Hitam (tentara dari Afrika), dan korps Pribumi.

Hardewijk Tempat Rekrutmen Serdadu Eropa di Belanda

(Sumber: indischeharderwijkers.nl)

Rekrutmen serdadu Eropa dilakukan di Hardewijk, Belanda. Menurut Ineke van Kessel (2011), dalam bukunya berjudul Serdadu Afrika di Hindia Belanda 1831-1945, penunjukan Hardewijk sebagai Koloniaal Werfdepot, atau depot perekrutan kolonial sejak tahun 1814. Menempati gedung bekas percetakan mata uang. Yang diubah menjadi tangsi “Depot Batalion Pasukan di Koloni No. 33” (hlm. 23).

Orang-orang Eropa umumnya dikontrak selama enam tahun. Untuk ditempatkan di Hindia-Belanda. Saat pendidikan di Belanda, tentara kolonial berada di bawah Kementerian Urusan Perang. Namun, saat sudah dikirim ke Hindia-Belanda, tentara kolonial berada di bawah Kementerian Daerah Jajahan, tulis Ineke van Kessel (2011: 23).

Untuk menarik minat calon serdadu, pemerintah membuat iklan. Dengan menjanjikan berbagai tunjangan. Iming-iming gaji besar membuat banyak orang tertarik. Agar mereka segera mencari Koloniaal Werfdepot. Segera Hardewijk dipenuhi calon serdadu Eropa.

Buku tulisan Reggie Baay (2017), berjudul Nyai dan Pergundikan di Hindia Belanda, dikatakan para calon serdadu tidak hanya dari Belanda saja. Tetapi, ada yang berasal dari Jerman, Swiss, Perancis, Austria, Polandia, dan Denmark (hlm. 97).

Dalam rekrutmen calon serdadu, pemerintah memanfaatkan jasa wervers. Semacam makelar. Yang mencari orang-orang yang mau mendaftarkan diri sebagai calon serdadu. Semakin banyak orang yang ia dapatkan, makin tebal komisinya. Siapapun ia setorkan. Tidak perduli latar belakang orang itu. Pemabuk atau orang tidak layak lainnya. Karena itu tentara kolonial memiliki kualitas buruk.

Kebanyakan dari mereka yang mendaftar sebagai serdadu hanyalah pelarian. Tergiur uang muka dan gaji. Ketika berkecamuk Perang Aceh, pemerintah kolonial membutuhkan serdadu yang banyak. Pada tahun 1873, uang muka dinaikkan menjadi f 100 gulden. Untuk jangka waktu kontrak hanya dua tahun. Itu akan terus meningkat hingga f 300 gulden. Hampir setara dengan gaji mereka selama satu tahun. Ini merupakan bentuk keputusasaan pemerintah kolonial mencari calon serdadu, tulis Reggie Baay (2017: 97).

Serdadu KNIL Selesai Berlatih di Mojokerto tahun 1928

(Sumber: wereldmuseum.nl)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas komentar Anda. Untuk perbaikan media pembelajaran sejarah populer ini.